Alibi Spontan Dirut PDAM Bantaeng Tumbang di Hadapan Rekaman; Bupati Disebut Berulang
BANTAENG, PojokSulsel – Alibi yang disampaikan Direktur PDAM Tirta Eremerasa Bantaeng, Suwardi, dalam klarifikasinya di media daring justru berseberangan dengan substansi rekaman percakapan telepon yang kini beredar luas di publik.
Pernyataan bahwa penyebutan nama bupati dilakukan secara spontan untuk “menenangkan suasana” tidak sejalan dengan alur dialog dalam rekaman, yang menunjukkan pembahasan sistematis mengenai pengaturan proyek, penunjukan pihak tertentu, pengelolaan potensi konflik, skema pencairan anggaran lintas tahun, hingga penyebutan nominal uang secara berulang.
“Itu spontan saya katakan agar tidak panjang percakapan dan upaya menenangkan,” ujar Suwardi, dikutip dari media daring hariantempo.co.id, seraya menegaskan tidak mungkin bupati terlibat dalam pengurusan maupun pembagian proyek.
“Dan jujur saya berinisiatif sendiri menyebut nama bupati agar mereka tidak ribut-ribut terkait proyek, itu saja,” lanjutnya.
Namun, rekaman percakapan justru memperlihatkan dialog yang tidak singkat, tidak reaktif, dan tidak terkesan situasional sebagaimana klaim tersebut. Percakapan berlangsung panjang, berlapis, dan konsisten, dengan narasi yang berulang kali menempatkan bupati sebagai rujukan legitimasi.
Nama kepala daerah disebut lebih dari sekali, disertai penjelasan tentang siapa yang “sudah dikasih”, siapa yang perlu “diamankan”, serta bagaimana konflik dapat dicegah, membentuk satu rangkaian komunikasi yang sulit dipahami sebagai ucapan spontan semata.
Klaim Suwardi terkait angka Rp40-50 juta juga menuai sorotan. Ia menyatakan angka tersebut hanyalah gambaran keuntungan pekerjaan pagar, bukan fee proyek. Namun, dalam rekaman, nominal itu disebut dalam konteks pemberian uang tunai tanpa keterlibatan langsung dalam pekerjaan, ditegaskan dengan frasa “tidakmi dikerja” dan “langsung dikasi cash”, yang membuka tafsir publik bahwa uang tersebut berdiri terpisah dari proses kerja konstruksi.
“Itu sekadar membantu saja karena tidak mungkin uang pribadi saya berikan. Akan tetapi Alwi mengatakan tidak punya anggaran pekerjaan, sehingga saya usulkan mencari perusahaan atau orang lain yang mengerjakan agar bisa berbagi keuntungan,” ujar Suwardi.
“Karena kebutuhannya mendesak untuk menikah, saya beri gambaran agar langsung mengambil nilai keuntungan pekerjaan pagar yang diprediksi 40-50 juta. Jadi itu bukan fee proyek,” sambungnya.
Sayangnya, klarifikasi Suwardi tersebut tidak sepenuhnya berkelindan dengan isi rekaman percakapan yang beredar. Dalam dialog telepon itu, tersirat penegasan bahwa Alwi tidak lagi perlu memikirkan proses maupun pelaksanaan pekerjaan proyek. Seluruh tahapan pekerjaan disebut akan ditangani oleh kelompok tertentu, sementara Alwi cukup menerima uang yang dijanjikan.
Pernyataan tersebut terekam jelas ketika Suwardi menyampaikan bahwa Alwi tidak perlu direpotkan dengan urusan pekerjaan, karena mekanisme pelaksanaannya telah diatur. Fokus pembicaraan justru diarahkan pada kemudahan penerimaan uang dalam waktu dekat, dengan alasan menghindari potensi konflik di lapangan menjelang tahapan akhir kegiatan.
“Anremo nisusaiki ceritanya kerjai dih. Anremo nasusah langsung mami, bisa disiapkan mungkin bulan-bulan ini, itu memudahkanji itu dulu karena anu, kita nda mau ribut-ribut di lapangan ini kah penghujung anu tommi, finalisasi,” ujar Suwardi dalam rekaman percakapan telepon yang diduga berlangsung pad penghujung 2025 yang kini viral.
Redaksi percakapan tersebut memperkuat kesan bahwa uang yang dibicarakan tidak ditempatkan sebagai estimasi keuntungan dari pekerjaan yang dijalankan sendiri oleh Alwi, melainkan sebagai penerimaan langsung tanpa keterlibatan teknis. Konteks ini kembali mempertajam kontras antara penjelasan Suwardi dalam klarifikasi media daring dan narasi yang muncul secara utuh dalam rekaman, yang kini menjadi rujukan utama penilaian publik.
Namun dalam klarifikasi di media daring, Suwardi menegaskan dirinya bukan makelar proyek dan hanya memberikan petunjuk, dengan alasan keterbatasan waktu yang dihadapi Alwi. Ia bahkan menyebut rencana pelamaran Alwi yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Januari 2026.
Perbedaan mencolok antara klarifikasi dan isi rekaman inilah yang memantik kritik di jagat maya maupun dalam diskusi di warung kopi. Klarifikasi tersebut dinilai tidak sepenuhnya menjawab substansi dialog, melainkan cenderung menyempitkan makna percakapan yang terekam dan telah dikonsumsi publik secara luas.
Situasi ini sekaligus menyeret nama bupati ke dalam pusaran isu, baik dicatut maupun tidak, karena disebut berulang kali dalam percakapan sebagai referensi legitimasi. Kondisi tersebut memunculkan tuntutan agar persoalan ini dijelaskan secara lebih terang, terukur, dan dapat diuji secara hukum.
Dalam klarifikasi yang dimuat media daring, Suwardi menyampaikan pembelaannya terkait penyebutan nama bupati dan angka Rp40-50 juta. Klarifikasi tersebut kemudian disandingkan dengan isi rekaman percakapan utuh yang beredar di publik, tanpa perubahan satu kata pun, sehingga publik dapat menilai sendiri kontras antara pernyataan dan fakta dialog yang terekam. Berikut percakapannya:
Alwi: Halo, Assalamualaikum ustaz
Suwardi: ya halo, assalamualaikum, ya Alwi?
Alwi: ih, di manaki ? Ributki
Suwardi: Di anu, di pasar malam, bawa Uwais main-main
Alwi: Iye ustaz, begitu mo ku tanyakan Bapakku yang kita’ bilang
Suwardi: iye, iye
Alwi: Bilang itu perintah bupati ustaz dih?
Suwardi: Iye, ya jadi maksudku anu, itu program kan bupati cuma bilang, kasi pak Alwi sama pak Hakim, cuma itu yang TK terlanjur dari dulu ji dikasi pak Hakim, begitu. Dia memang dari dulu didata. Anu maki dulu, itu mo di atas yang di anu, di apa, kalau mau memang kerja toh. Di Lannying Alwi.
Alwi: oh iye, oh iye ustaz
Suwardi: Ambil mi kerja itu pagar sama tamannya. Sebenarnya dari keuntungannya juga itu lebih gampang itu.
Alwi: Oh iye ustaz
Suwardi: cuma resikonya ji itu Alwi kayaknya nyeberang itu pencairannya, bulan-bulan tujuh pi itu paling cepat. Jadi kalaupun selesai dikerja bulan 12 itu pembayarannya bulan 7 pi, paling cepat mi itu.
Alwi: oh iye ustaz, iye ustaz.
Suwardi: Begitu itu rata-rata sekarang saya lihat proyek dia nyeberang
Alwi: Oh iye ustaz. Ku sampaikan dulu pale Bapakku ustaz kah ini pulang mi salat isya ustaz bilang…
Suwardi: iya , tapi kalau ada di anu, maksud saya, itu saya bilang, mauki langsung ki saja dikasi 40 sampai 50, bisa tonji.
Alwi: Oh iye siap siap ustaz, ku koordinasikan pale dulu sama bapakku dulu ustaz
Suwardi: Tidak mi dikerja, nanti tim ini saja yang kerja i. Artinya langsung maki terima gaji, kah biar bulan-bulan ini mungkin bisa maki dikasi kalau dia sudah deal toh, dikasi maki itu yang angka 40 atau 50, 40 sampai 50 jutalah toh, bisa maki langsung dikasi cash itu yya. Anu ji ini karena kita tidak mau anu, ada ribut-ribut toh, karna kapan ribut-ribut, bertengkar ki, baru pak Hakim juga mengancam toh, jadi nda enak, maksudnya bagaimanalah diamankan.
Alwi: Iye ustaz kan ku tanya maki juga alasanku kenapa ini ku keras selama ini karna pak Bupati sendiri yang kasi bapakku, cuman, makanya, ku tanyaki…
Suwardi: cocokmi itu pak bupati yang kasi. Ternyata setelah kita laporkan semua di pak bupati, diperhadapkan toh, tidak na tauki bilang adami yang dikasi di situ. Itu maksudnya. Nah itu kalau terlanjur sudah maki bicara, komitmen sama orng kan tidak enak juga, na kungngi Sallang masa bicara pinruang pintalluki, lebbakka nisare, nisareangise tau maraenga….
Alwi: oiye siap siap ustaz….
Suwardi: …. itu, sebenarnya toh. Kalau yang di atas sudah diamankan, nda adaji masalah kalau yang di atas. Jadi tanya bapak ta itu, bilang itu ada penyampaiannya, kalau mau keuntungan saja dia pasti kasi, cuma memang itu ji kalau saya iyya, pertimbangan ta, itu pencairannya itu dia nyeberangi, rata-rata semua nyeberang ke bulan 7, paling cepat mi itu dibayar itu.
Alwi: Bagaimana itu ustaz na bulan satu menikah a, na itu dikasika juga menyeberang tahun juga.
Suwardi: Tidak bisa. Yang jelas intinya itu tidak bisa, pasti nyeberang ki ke bulan 7, begitu itu semua pembayarannya. Jadi pembayaran untuk proyek tahun ini dibayarkan nanti di bulan tujuh paling cepat kalau selesai pengurusan BPK. Makanya, kalau saya Alwi, lebih enakki kalau memang anuji, itu mo yang 50 dia cashki, anre’mo nasusaiki sebenarnya.
Alwi: Oiye ustaz nanti saya sampaikan dulu ke Bapakku pale….
Suwardi: … Anremo nisusaiki ceritanya kerjai dih. Anremo nasusah langsung mami, bisa disiapkan mungkin bulan-bulan ini, ituemudahkanji itu dilu karena anu, kota nda mau ribut-ribut di lapangan ini kah penghujung anu tommi, finalisasi.
Alwi: Ooye siap siap ustaz siap…
Suwardi: dih, diskusikan maki dulu, jadi nanti kabarima bagaimana yang terbaik toh
Alwi: Saya diskusikan pale dulu ustaz





