Dosen UIT Dampingi Petani Kakao di Bone dengan Teknik Sanitasi dan Pupuk Organik
Pojoksulsel.com, Bone, Kamis, 13/08/2026 — Tim dosen Universitas Indonesia Timur (UIT) menjalankan program pemberdayaan bagi petani kakao di Kabupaten Bone.
Program ini melatih teknik sanitasi kebun dan pengolahan biomassa agroforestri menjadi pupuk organik.
Kegiatan menyasar Kelompok Tani Wangi-Wangi 2 di Dusun Lekke, Desa Tonronge, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone.
Program ini mengangkat judul Peningkatan Inovasi Petani Kecil Melalui Teknik Sanitasi dan Pemanfaatan Biomassa Agroforestry Kakao.
Pendanaan kegiatan berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Pemula tahun anggaran 2026.
Masalah yang Dihadapi Petani Kakao
Tim pelaksana dipimpin oleh Wahyullah, dosen Program Studi Kehutanan UIT.
Anggota pelaksana terdiri atas Harlina dari UIT dan Herawaty dari Universitas Islam Makassar.
Dua mahasiswa Kehutanan UIT, Rider dan Muh. Anugrah, juga terlibat dalam pendampingan ini.
Menurut Wahy dapat, pengetahuan petani tentang pemeliharaan dan sanitasi kebun kakao masih rendah.
Serangan hama dan penyakit, termasuk busuk buah, menjadi dampak utama dari minimnya perawatan tersebut.
Limbah biomassa dari hasil dan naungan selama ini tidak termanfaatkan secara optimal.
Pelatihan dan Target yang Ingin Diraih
Petani diberikan teknik sanitasi kebun dan pemangkasan yang benar untuk menekan serangan hama.
Pohon pena juga dipangkas dalam pengaturan agroforestri agar pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Tim juga melatih petani membuat pupuk organik cair berbahan biomassa kebun dengan starter EM4 dan gula merah.
Program ini menargetkan kenaikan pengetahuan dan keterampilan petani sebesar 70 persen.
Penurunan serangan busuk buah kakao ditargetkan minimal 20 persen.
Petani juga ditargetkan mendapatkan pupuk organik cair siap pakai dari hasil olahan sendiri.
Tim menyerahkan mesin pencoka biomassa, gerobak angkut, gergaji pohon, sibukan, gunting pruning, babad, cangkul, serta drum fermentasi bervolume 150 liter.
Harapan untuk Keberlanjutan Program
Wahyullah menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menekan biaya produksi petani dan meningkatkan mutu kakao.
Kemandirian kelompok tani dalam mengelola kebun juga menjadi target jangka panjang.
Program ini dinilai sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan yang mencakup pengentasan kemiskinan, tanpa kelaparan, dan produksi yang bertanggung jawab.
Kegiatannya juga mendukung Astuitas pembangunan dan penguatan ekonomi hijau.
Selain itu, program selaras dengan Rencana Induk Riset Nasional bidang ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.
Tim UIT berharap tani sawit di Desa Tonrongan dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain di Sulawesi Selatan.

Leave a Reply Cancel reply