174 Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla, 40 Ribu Korban Balita

174 Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla, 40 Ribu Korban Balita

Pojoksulsel.com, Makassar, Selasa, 03/11/2026 — Lebih dari 174 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di tujuh provinsi akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Dari total tersebut lebih dari 40 ribu kasus menimpa balita.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 174.694 kasus ISPA di tujuh provinsi sejak 18 Agustus.

Sebanyak 40.363 kasus di antaranya terjadi pada anak balita.

Data terbaru mencatat 4.533 kasus aktif yang masih menerima penanganan.

Angka ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar isu lingkungan tetapi krisis kemanusiaan yang langsung mengancam kesehatan paru-paru anak.

Kesehatan Anak Terancam Akibat Asap Karhutla

Peneliti dari National University of Singapore dan Duke University menganalisis data 560 anak Indonesia dari survei keluarga jangka panjang.

Data diambil pada tahun 1997, 2000, 2007, dan 2014.

Peneliti mencocokkan data pertumbuhan fisik dengan data satelit mengenai paparan polusi asap.

Anak yang terpapar asap karhutla sejak masih di dalam kandungan memiliki tinggi badan rata-rata 3 sentimeter lebih pendek ketika mencapai usia 17 tahun.

Temuan ini membuktikan bahwa paparan racun pada tubuh yang masih berkembang dapat meninggalkan kerusakan permanen bertahun-tahun kemudian.

American Academy of Pediatrics dalam laporan tahun 2024 menyebutkan asap kebakaran hutan hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding polusi udara biasa.

Hal ini disebabkan paru-paru balita yang masih berkembang serta saluran napas yang lebih kecil.

Frekuensi napas anak yang lebih cepat juga membuat laju asap dan racun yang terhirup jauh lebih banyak.

Peran Negara dalam Penanganan Karhutla

Masyarakat tidak hanya membutuhkan sosialisasi bahaya ISPA atau pembagian masker.

Yang diinginkan adalah hadirnya peran negara yang tanggap, tegas, dan sigap dalam menangani bencana.

Negara juga harus menindak pelaku perusakan lingkungan secara tegas.

Kepala daerah di daerah terdampak melaporkan keterbatasan sumber daya dan pendanaan penanggulangan.

Dalam pandangan Islam, kesehatan adalah kebutuhan pokok bagi setiap individu.

Allah SWT menugaskan manusia menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, bukan merusaknya.

Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 205 menyatakan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan di bumi.

Penanganan bencana dan perlindungan kesehatan adalah bagian dari ri’ayah oleh pemerintah yang hukumnya wajib.

Negara wajib mengerahkan semua sumber daya untuk memadamkan api dan menyediakan fasilitas kesehatan secara gratis.

Pemerintah juga harus berusaha mencapai kemandirian produksi obat dan sarana medis.

Langkah ini diperlukan agar generasi penerus bangsa terlindung dari ancaman kabut asap.

Dampak bagi Generasi Emas 2045

Visi Generasi Emas 2045 sulit terwujud jika kesehatan fisik dan hak pendidikan anak terancam oleh asap.

Keselamatan anak harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan penanganan karhutla.

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman, udara yang bersih, dan negara yang benar-benar peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tutup