Kalah dari Kotak Kosong hingga Jadi Wali Kota, Munafri Arifuddin Cerita Perjuangan di FH Unhas
Pojoksulsel.com, Makassar, Sabtu, Mei 23, 2026 — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin membagikan kisah perjuangan hidupnya dalam kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Acara bertajuk “Sinergi Pemerintahan, Hukum dan Entrepreneurship dalam Menciptakan Inovasi Pemerintahan yang Berdampak di Kota Makassar” itu dihadiri ratusan mahasiswa.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memberikan kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada Sabtu, Mei 23, 2026. Ia menceritakan perjalanan hidupnya dari penyiar radio hingga memimpin kota, termasuk kekalahan dari kotak kosong pada Pilkada 2018. ‘Kesuksesan adalah perjalanan yang dibangun melalui visi yang jelas, konsistensi, dan ketekunan,’ kata Munafri Arifuddin.
Sinergi Pemerintahan, Hukum, dan Entrepreneurship
Dalam kuliah tersebut, Munafri menekankan bahwa kesuksesan tidak instan. Ia menilai Kota Makassar membutuhkan lebih banyak entrepreneur karena pertumbuhan ekonomi daerah ditopang sektor perdagangan dan jasa.
“Kota ini tumbuh dari perdagangan dan jasa. Karena itu kita membutuhkan lebih banyak entrepreneur, lebih banyak pengusaha,” kata Munafri Arifuddin, Sabtu, Mei 23, 2026.
Pria yang akrab disapa Appi itu juga menyoroti pentingnya ilmu hukum dalam bisnis. Menurutnya, hukum menjadi fondasi sekaligus rambu-rambu dalam mengembangkan usaha dan karier profesional.
“Hukum menjadi rambu-rambu kita dalam melangkah, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah,” ujarnya.
Ia menegaskan sinergi antara pemerintah, hukum, dan entrepreneurship menjadi kunci pembangunan kota. Pemerintahan butuh inovasi, hukum menjamin inovasi tetap dalam koridor, dan entrepreneurship membawa cara berpikir kreatif dan solutif.
Perjalanan Politik Penuh Tantangan
Munafri juga mengisahkan perjalanan politiknya yang panjang. Ia pernah kalah dalam Pilkada Makassar 2018 melawan kotak kosong.
“Tahun 2018 saya maju sebagai calon Wali Kota Makassar. Lawannya kotak kosong, dan saya kalah oleh kotak kosong,” ungkap Munafri, Sabtu, Mei 23, 2026.
Kekalahan itu membuatnya terpukul hingga tujuh bulan tidak keluar rumah. “Selama tujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya,” kenangnya.
Ia kembali maju pada Pilkada 2020 bersama Rahman Bando di tengah pandemi COVID-19, namun kembali kalah. “Tahun 2020 saya kalah lagi,” ujarnya.
Kegagalan tidak menyurutkan langkahnya. Pada Pilkada Makassar 2024, Munafri bersama Aliyah Mustika Ilham berhasil memenangkan kontestasi dengan perolehan sekitar 54 persen suara.
“Tidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia. Berjuanglah sampai tuntas untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan,” pesannya kepada mahasiswa.
Selain politik, Munafri bercerita tentang masa mudanya yang penuh keterbatasan ekonomi. Ia berasal dari keluarga sederhana dan harus membiayai kuliah sendiri setelah semester pertama dengan bekerja sebagai penyiar radio.
“Saya masuk Fakultas Hukum, orang tua cuma membayar satu semester. Setelah itu sampai selesai saya bayar sendiri sambil bekerja sebagai penyiar radio,” ungkap alumni FH Unhas tersebut.
Ia juga sempat mengalami kesulitan berbahasa Inggris saat memulai karier di sepak bola profesional. Pengalaman itu memotivasinya untuk terus belajar hingga dipercaya memimpin PSM Makassar dan menjadi perwakilan kehormatan Republik Kroasia di Indonesia.
Saat memimpin PSM pada 2016, klub sedang terpuruk akibat sanksi FIFA. Munafri melakukan perubahan besar di manajemen, pelatih, hingga pemain asing. Hasilnya, PSM meraih gelar juara Piala Indonesia 2019 setelah puasa trofi selama 19 tahun.
Di akhir kuliah, Munafri mengajak mahasiswa Fakultas Hukum Unhas menjadi motor penggerak kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak kepada masyarakat.




