Kisah KH Abdul Rasyid, Ulama Mandar yang Jadi Kadhi di Tanah Bugis

Kisah KH Abdul Rasyid, Ulama Mandar yang Jadi Kadhi di Tanah Bugis

Pojoksulsel.com, Makassar, Minggu, 01/11/2026 — KH Abdul Rasyid dikenal sebagai ulama terkemuka Banggae Majene yang pernah mengabdi sebagai Kadhi di Sidenreng, Tanah Bugis, serta Imam generasi ketiga Masjid Saleppa.

Profil dan Kedudukan di Kerajaan Banggae

KH Abdul Rasyid dikenal dengan gelar Puang Kadhi Sidenreng atau Puang Dendeng. Beliau pernah diangkat menjadi Kadhi di Banggae Majene sebelum menjabat di Sidenreng, Sidrap. Beliau juga menjadi Imam generasi ke-3 Masjid Saleppa yang kini bernama Masjid Raya Raudhatul Abidin. Menurut Jajat Munadjat, Pemerhati Agama, Sosial, dan Budaya, Minggu, 01/11/2026, genealogis beliau mencapai KH Adam, ulama ternama Banggae abad XVIII. Ayahnya HM Ali bin H Hasan bin Senda bin Tondai merupakan pemangku Hadat di wilayah kerajaan Banggae. Ibu Hj St Zaenab bersaudara dengan Saodah, Rukiah, dan Hj St Maemunah. Keluarga Beliau berasal dari keturunan ulama dan bangsawan hadat. Di struktur kerajaan Banggae terdapat tiga pilar tata kelola yakni bangsawan raja, bangsawan hadat, dan kadhi yang saling sinergi sejak era Raja Banggae III I Moro Daengta’ Di Masigi.

Silsilah Keluarga dan Keturunan

KH Abdul Rasyid memiliki dua saudara kandung perempuan yaitu St Asiah dan St Chadijah. St Chadijah melahirkan KH Abdullah Mubarak. Beliau menikah dua kali. Istri pertama Galo’ beretnis Bugis Makassar dari Kepulauan Spermonde Pangkep melahirkan lima anak. Di antaranya HA Waris Dg Tompo ayah dr Hj Hamda Zainal Arifin dan Adi Fauzi SH. H Djalaluddin Dg Sirua ayah Yogi Badrul Munir. HM Sayad Dg Sipato. HM Saleh Dg Sisila ayah Dr H A Rasyid Saleh, Dr H A Abu Ayyub SH MH, Prof Dr Hj A Ummu Salmah. St Zaenab Dg Djinne ibu A Indrajaya A Sommeng. Istri kedua dari Amparita Sidenreng Sidrap melahirkan dua anak yaitu Aminah dan Zubaedah. Keturunan kini tersebar di Tanah Mandar, Tanah Bugis, Tanah Makassar, hingga Benteng Pinrang. Qadarullah banyak keturunan menjadi ulama, guru, hakim, dokter, dan pejabat negara.

Jaringan Ulama dan Regenerasi

Pada era 1820-an hingga 1990-an Banggae Majene memiliki sejumlah ulama besar. Di antaranya KH Abdul Razak, KH Zainal Abidin, KH As’ad bin Harun Al Rasyid, Imam Lapeo, KHM Yahya, KH Abdullah, serta Syech Hasan Yamani ayah mantan Menteri Perminyakan Arab Saudi Achmad Zaki Yamani. Generasi pelanjut meliputi KH Djuaeni As’ad, KH Djalaluddin Sulaiman, KH Siradjuddin Salam, KHM Saleh, KH Abdullah Mubarak, KH Abd Rachman Qadir, KH Abd Hafidz, Syech Dr Nawawi Yahya, Prof Dr KH Syahabuddin, dan banyak lagi. Kerabat yang mengikuti jejak keulamaannya antara lain KH Abdullah Mubarak, KH Djalaluddin Sulaiman, KH Zainal Abidin Polewali, Syech Dr Nawawi Yahya. Murid-muridnya pun menghasilkan regenerasi ulama di Amparita Sidenreng dan sekitarnya.

Karya Tulis dan Makam

Beliau meninggalkan karya tulis berjudul “Tahshilul Pawaid” yang selesai ditulis pada 10 Muharram 1332 H. Makamnya berada di pekuburan umum Saleppa Banggae dan masih terawat rapih serta sering diziarahi keluarga dan ummat.

Penghormatan dan Warisan

Belum ada nama jalan di Kota Majene yang mengabadikan nama beliau. Namun putranya HA Waris Dg Tompo namanya terpampang di ruas jalan di lingkungan Saleppa Banggae tepat di depan gapura pekuburan islam membentang hingga pinggir sungai. Itulah sekilas kisah KH Abdul Rasyid sebagai informasi umum keulamaanan dan pengabdiannya di tengah ummat Banggae Majene dan Amparita Sidenreng Sidrap. Semoga ilmunya bermanfaat generasi ke generasi. Allahummaghfirlahu Warhamhu Waafihi Wa’fuanhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tutup