Pojoksulsel.com

Update Kabar Hits Sulsel, Langsung di Pojoksulsel.com

News

Potensi Rp7 Triliun: Ekonom Dorong Investasi Perikanan Sulsel Kalahkan Tambang

Pojoksulsel.com, Makassar, Kamis, 14/05/2026 — Sejumlah ekonom menilai sektor perikanan dan kelautan Sulawesi Selatan memiliki peluang investasi hingga Rp7 triliun, melampaui sektor pertambangan yang selama ini menjadi andalan. Dorongan optimalisasi komoditas seperti rumput laut dinilai mampu membuka sumber pendapatan baru bagi daerah.

Dorongan Optimalisasi Sektor Perikanan

Pengamat investasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Andi Nur Bau Massepe mendorong Pemerintah Provinsi Sulsel untuk memanfaatkan potensi perikanan dan kelautan secara maksimal. Menurutnya, rumput laut Sulsel mencakup sekitar 33 persen produksi nasional, namun pengelolaan dan nilai tambahnya belum optimal.

“Apalagi rumput laut sekitar 33 persen secara nasional, namun belum dikelola secara baik dan belum dimanfaatkan nilai tambahnya. Ekspor rumput laut Sulsel Rp2,3 triliun dengan jumlah 150 ribu ton,” kata Andi Nur, Kamis, 14/05/2026.

Ia menambahkan potensi investasi sektor ini bisa mencapai Rp7 triliun, belum termasuk peluang dari pendirian industri olahan perikanan. “Tentu saja akan bisa memberi sumber pendapatan baru, ikan kan merupakan sumber protein yang tinggi buat manusia, dan negara Eropa dan Amerika butuh,” ujarnya.

Perikanan sebagai Alternatif Berkelanjutan

Senada, ekonom Sutardjo Tui menilai sektor pertambangan memiliki batas waktu karena bergantung pada sumber daya alam yang bisa habis. Menurutnya, perikanan dan kelautan lebih berkelanjutan jika dikelola dengan serius.

“Pertambangan ini kan punya jangka waktu, mungkin 20 atau 30 tahun akan habis. Berarti kita harus selalu mencari mana yang sustainable (berkelanjutan). Yang sustainable bagi Indonesia sebenarnya jika digarap dengan baik adalah perikanan,” jelas Ketua Program Studi Magister Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) itu, Kamis, 14/05/2026.

Sutardjo menambahkan laut akan terus menjadi sumber ekonomi. “Kalau saya melihatnya, pengganti untuk pertambangan itu adalah perikanan. Dan laut ini akan terus ada sampai kiamat pun. Berbeda dengan pertambangan yang ada jangka waktunya dan isi perut buminya bisa habis, begitu juga lahan pertanian. Jika dikelola dengan baik, perikanan berpotensi menggantikan pertambangan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti luasnya laut Indonesia. “Laut kita sangat luas, kenapa kita tidak dorong ke sana? Kenapa kita tidak berusaha menjadi penghasil ikan nomor satu di dunia, bukan hanya penghasil sawit di dunia? Itu menurut saya,” ucap dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Prof Marzuki DEA menjelaskan alasan investor masih melirik pertambangan. Endapan nikel di wilayah Luwu menjadi keunggulan komparatif yang menarik minat investor.

“Hukum bisnis mengajarkan bahwa bagi investor tentu akan memprioritaskan usahanya di lokasi dengan bahan baku yang ketersediaannya dalam jangka panjang terjamin,” bebernya, Kamis, 14/05/2026.

Kebijakan hilirisasi nasional turut mendorong perusahaan membangun smelter untuk memurnikan bijih nikel mentah. Investasi besar di sektor ini mencatatkan angka hingga puluhan triliun rupiah dan melampaui sektor lain dalam statistik PDRB.

Para ekonom sepakat bahwa perikanan dan kelautan Sulsel memiliki potensi besar sebagai pengganti pertambangan di masa depan. Namun, optimalisasi pengelolaan dan dukungan pemerintah daerah menjadi kunci untuk merealisasikan potensi investasi Rp7 triliun tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tutup
Exit mobile version