Ibu Relawan Makassar Menangis Minta Tolong: Anak Saya Bukan Teroris, Disandera Israel Saat Misi Kemanusiaan
Pojoksulsel.com, Makassar, Kamis, May 21, 2026 — Seorang ibu asal Makassar, Sutrawati Kaharuddin (52), meluapkan kesedihannya setelah putranya, Andi Angga Prasadewa (32), diduga dicegat dan disandera oleh tentara angkatan laut Israel saat menjalani misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina. Andi tergabung dalam rombongan Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan untuk warga Palestina.
Seorang ibu di Makassar, Sutrawati Kaharuddin, mengaku putranya Andi Angga Prasadewa disandera tentara Israel saat menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza. Ia memohon bantuan Presiden Prabowo. “Anak saya bukan teroris,” katanya.
Kronologi Penyanderaan Relawan Makassar
Sejak beberapa hari terakhir, Sutrawati tidak bisa menghubungi putranya. Nomor telepon Andi dilaporkan tidak aktif. “Saya hubungi dia, tapi sudah tidak aktif. Dia berangkat membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina lewat jalur laut,” ujarnya lirih, Kamis, May 21, 2026.
Andi diketahui berangkat dari Indonesia menuju Turki menggunakan pesawat. Di sana, ia bersama relawan lain mengikuti pelatihan selama sekitar sepekan sebelum berlayar ke wilayah Palestina. Namun, di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi dikabarkan dicegat oleh tentara Israel di perairan dekat Siprus. “Informasinya setelah beberapa hari berlayar mereka dicegat. Katanya ada delegasi Indonesia juga di dalam rombongan itu,” tuturnya.
Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Andi berada di kapal Josef dalam rombongan Global Sumud Flotilla. Selain Andi, terdapat warga negara Indonesia lain yang ikut serta, antara lain jurnalis Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, serta Bambang Noroyono yang berada di kapal berbeda.
Latar Belakang Misi dan Harapan Keluarga
Di mata keluarganya, Andi bukan orang baru dalam kegiatan sosial. Selama tiga tahun terakhir ia bekerja sebagai amil di lembaga kemanusiaan Rumah Zakat di Bandung, Jawa Barat. “Dia memang aktif di kegiatan kemanusiaan,” kata Sutrawati.
Sutrawati menegaskan putranya berangkat bukan untuk membawa senjata atau terlibat konflik bersenjata, melainkan hanya ingin menyalurkan bantuan bagi warga sipil yang membutuhkan. “Anak saya cuma bawa bantuan kemanusiaan untuk orang-orang di Palestina,” ucapnya dengan suara bergetar. Ia pun memohon perhatian pemerintah Indonesia, terutama Presiden Prabowo, agar segera membantu proses penyelamatan. “Saya mohon kepada pemerintah, terutama Bapak Prabowo, tolong selamatkan anak saya. Dia bukan teroris, dia aktivis kemanusiaan,” katanya.
Kesimpulannya, kasus penyanderaan ini menambah daftar panjang insiden yang menimpa relawan kemanusiaan asal Indonesia di zona konflik. Keluarga berharap pemerintah segera mengambil langkah diplomatis untuk memastikan keselamatan seluruh warga negara yang terlibat dalam misi Global Sumud Flotilla.




